Disclaimer : Bak kata Juria Afina: "This is not a revelation, this is just a piece of my brain"
Simply put, dalam setiap penulisan ada FIKSI dan BUKAN FIKSI nya. Kalau terasa, tanggung sendiri :)

#You might find yourself in my writing(s), that's how I acknowledge your presence in my Qalb.

Monday

Jom Ubah!: Laqab

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah ia beriman. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.
[Al-Quran, (Al-Hujuraat : 11)]

-------

"Dia datang! Dia datang!" senyuman sinis jelas di riak wajah salah seorang dari kelompok itu.

"Siapa?"

"Alaa... Si Rosmah tu" lagi seorang yang duduk di kelompok itu bersuara.

Kepala terjenguk-jenguk mencari 'Rosmah' "Rosmah? Siapa Rosmah?"

"Tu kat depan tu haa!" mulut dimuncungkan di-arah-kan kepada seorang perempuan yang baru melangkah masuk ke hall rumah.

Mata melirik ke arah perempuan tadi tanda mendapatkan confirmation dari orang sekeliling. "Tu?"

Mereka senyum sinis dan mengangguk perlahan.

"Kenapa Rosmah? Nama dia bukan lain ke?"

Mereka masing-masing menahan ketawa.

"Err?"

Sekali lagi mereka ketawa terbahak-bahak sesama sendiri. "Awak ni slow lah. Tak ke macam 'Rosmah M' tu?" Ketawa masih bersisa.

Tunduk. Mengeluh perlahan. 

"Yang awak mengeluh tu kenapa? Ada masalah ke?"

Tarik nafas dalam, hembus. "Kadang-kadang, kita kena hati-hati dalam memberi laqab* pada orang. Bayangkan kalau kita yang diperlakukan macam tu. Terasa tak kita?"

GLOSARI:
·  laqab: gelaran

#jomubah!
-------

Zaman Nabi, pernah juga terjadi kejadian memberi laqab yang tidak seharusnya;

"INJAK kepalaku ini, hai Bilal!
Demi Alloh, kumohon injaklah!”
       Abu Dzar al-Ghiffari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. Dilumurkannya pasir ke wajahnya dan dia menunggu penuh harap terompah Bilal ibn Robah segera mendarat di pelipisnya.
       “Kumohon, Bilal saudaraku,” rintihnya, “Injaklah wajahku. Demi Alloh aku berharap dengannya Alloh akan mengampuniku dan menghapus sifat jahiliah dari jiwaku.” Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya bergumul campur aduk. Dia menyesal. Dia sedih. Dia takut. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa begitu lemah berhadapan dengan hawa nafsunya. Maka dengan kepala bersaput debu yang disujudkan dan wajah belepotan pasir yang disurukkan, dia mengerang lagi, “Kumohon injaklah kepalaku.”
       Sayang, Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
       Peristiwa itu memang berawal dari kekesalan Abu Dzar pada Bilal. Dia merasa Bilal tak mengerjakan sebuah amanah dengan utuh, bahkan seolah membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Abu Dzar kecewa dan, sayang, dia tak dapat menahan diri. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking, “Hai anak budak hitam!”
       Rosululloh yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau menghampiri dan menegur Abu Dzar. “Engkau!” sabdanya dengan  telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar, “Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”
       Maka Abu Dzar yang dikejutkan dengan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta-merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Berulang-ulang dia memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung. Dia marah, tapi juga haru. “Aku memaafkan Abu Dzar, ya Rosulalloh,” kata Bilal. “Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Alloh, menjadi kebaikan bagiku kelak.”
       Hati Abu Dzar rasanya perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebusnya di dunia. Alangkah tak nyaman menelusuri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, shohabat Rosululloh yang mulia. Adapun kita, dengan segala kelemahan dan kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, mungkin tak hanya satu jari yang harus ditelunjukkan ke wajah kita. Lalu sebuah kesadaran menyentak, “Engkau! Dalam dirimu masih terdapat jahiliah!”
-Salim A. FillahDalam Dekapan Ukhuwwah, halaman 75, 76

No comments: